Cerita Saya

Translate

Selasa, 03 September 2013

Memberi Didalam Keterbatasan


Tak perlu menunggu mampu untuk bisa memberi. Ya! Itulah prinsip yang dipegang teguh oleh Bai Fang Li. Kisah hidupnya sangat inspiratif untuk kita.
Untuk ukuran seusianya, beliau bukan lah orang yang mudah menyerah oleh usia.

Semuanya berawal saat Bai Fang Li,
yang sedang beristirahat setelah seharian bekerja sebagai tukang becak. Beliau melihat seorang anak yang kira kira berusia 6 tahun sedang membantu seorang Ibu membawakan barang belanjaannya.
Kebahagiaan terpancar dari wajah anak tersebut ketika mendapatkan uang receh yang diberikan oleh sang Ibu.

Kemudian Bai Fang Li menghampiri anak tersebut dan bertanya, akan dikamanakan uang tersebut. Sang anak menjawab bahwa uang tersebut digunakan untuk membeli makanan untuk kedua adiknya. Lalu Beliau serta anak tersebut menghampiri kediaman anak pembawa belanjaan.
Ternyata keadaannya jauh dari yang disangka, tempatnya amat kumuh, dan kedua adiknya terlihat sangat kurus dan tidak terawat.

Dengan penuh keikhlasan, beliau membawa 3 anak tersebut ke panti asuhan kecil dan berjanji akan memberi makan setiap harinya. Dan dari sanalah Beliau memulai tetap bekerja sebagai tukang becak dan selama hidupnya telah menyumbangkan lebih dari RMB 350.000 ( setara dengan Rp 450 juta )
WOW

Saat berusia 90 tahun, Beliau mendatangi sekolah dan mengantarkan tabungannya yang disimpan dalam kotak rapi sebesar RMB 500 ( kurang lebih Rp 650ribu ) saraya berkata, " Saya sudah tak dapat mengayuh becak lagi, saya juga mungkin sudah tak bisa menyumbang lagi, ini mungkin adalah uang terakhir yang dapat saya sumbangkan......"
Sontak semua Guru pun menangis. 

Akhirnya beliau meningal saat umur 93 tahun, dan beliau meninggal dalam kemiskinan.



Note :
banyak banget pelajaran yang kita ambil dalam hidup beliau ya friends,,, jujur ane nggak nyangka ada lho orang yang kaya gitu, kalo orang kaya yang nyumbang sih, ane pikir wajar wajar aja, tapi kalo melihat beliau,,,,,wuiiihhh,,, MasyaAllah. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar